Pesan Pemimpin Area (September 2021)

Kasih untuk Semua Orang

“Meskipun kita berutang kepada Juruselamat kita utang kekal yang tidak akan pernah dapat dilunasi, yang Dia minta dari kita hanyalah agar kita mengasihi Allah, menaati perintah-perintah-Nya, dan mengembangkan kasih untuk semua orang.”  

Penatua Stephen C. K. Lai
Penatua Stephen C. K. Lai Dari Tujuh Puluh

Kasih adalah ekspresi universal yang melampaui semua bahasa, budaya, kebangsaan, dan agama.  Tanpa kasih, kita sering menemukan kekacauan, penderitaan, kebencian, kesedihan, dan kematian.  Kristus menubuatkan dan memperingatkan sebelumnya bahwa “karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin,” [1] yang bertentangan dengan kodrat ilahi-Nya.  

 

Rencana keselamatan memperkenankan kita untuk bertobat agar Pendamaian Yesus Kristus dapat mendatangkan“perubahan yang hebat dalam diri kami, atau dalam hati kami, sehingga kami tidak memiliki lagi watak untuk melakukan yang jahat, tetapi melakukan yang baik secara berkelanjutan.” [2]  Keadaan seperti itu menghasilkan kasih murni Kristus di dalam diri kita.  Itu membantu kita melihat setiap manusia, baik atau buruk, melalui mata Juruselamat kita karena “nilai jiwa adalah besar dalam pandangan Allah.” [3]

 

Untuk dipermuliakan, kita harus menjadi seperti Kristus secara alami.  Jika kita mengasihi Dia, kita akan menaati perintah-perintah-Nya. [4]  Kita akan mendengarkan “bujukan Roh Kudus, dan [menanggalkan] manusia alami dan [menjadi] orang suci melalui pendamaian Kristus Tuhan, dan [menjadi] seperti seorang anak, tunduk, lembut hati, rendah hati, sabar, penuh dengan kasih, bersedia tunduk pada segala sesuatu yang Tuhan anggap patut untuk ditimpakan ke atas diri [kita].” [5]  Kita kemudian akan “didapati tanpa salah di hadapan Allah.” [6]

 

Penatua Russell M. Nelson pernah mengajarkan, “Bukankah kita semua anak Allah?  Sebenarnya, tidak seorang pun dari kita dapat pernah berhenti menjadi seorang anak Allah.” [7]

 

Tidak untuk sesaat pun Kristus akan berhenti mengasihi kita.  Demikian pula, kita hendaknya berusaha untuk mengembangkan kasih bagi semua orang, sementara juga menepati perjanjian pembaptisan dan bait suci kita.

 

 


“Bukankah kita semua anak Allah? Sebenarnya, tidak seorang pun dari kita dapat pernah berhenti menjadi seorang anak Allah.”

Penatua Russell M. Nelson

Ketika Kristus berada di Taman Getsemani, Dia melakukan Pendamaian tanpa batas bagi setiap jiwa manusia—dahulu, sekarang dan di masa datang.  Itu lengkap dan sempurna.  Dia “tidak menolak seorang pun yang datang kepada-Nya, hitam dan putih, terikat dan bebas, laki-laki dan perempuan; dan Dia mengingat orang kafir; dan semuanya sama bagi Allah, baik orang Yahudi maupun orang bukan Israel.” [8]   

 

Kristus memberikan teladan kesempurnaan dan kasih amal:

 

1.     Dia penuh rasa iba ketika Dia menyembuhkan seorang perempuan “yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.” [9]

2.     Dia mengulurkan belas kasihan kepada seorang perempuan yang kedapatan berzina. [10]

3.     Dia melihat Matius bukan sebagai pemungut cukai namun sebagai rasul dan saksi khusus bagi-Nya. [11]

4.     Dia menyembuhkan sepuluh orang kusta, meskipun hanya satu yang kembali untuk mengucapkan terima kasih kepada-Nya. [12]

5.     Di kayu salib yang kejam di Kalvari, terlepas dari penderitaan-Nya sendiri, Dia dengan keluhuran hati memohon, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” [13]

 

Nefi memberikan nasihat yang baik tentang bagaimana mengembangkan kasih murni Kristus ini.  Dia menasihati kita untuk “maju terus dengan ketabahan di dalam Kristus, memiliki kecemerlangan harapan yang sempurna, dan kasih bagi Allah dan bagi semua orang.  Karenanya, jika kamu akan maju terus, mengenyangkan diri dengan firman Kristus, dan bertahan sampai akhir, lihatlah, demikian firman Bapa: Kamu akan memperoleh kehidupan kekal.” [14]

 

Kita belajar untuk mengenyangkan diri dengan firman Kristus dengan terlebih dahulu mengucapkan doa setiap hari.  Dengan demikian kita mengundang Roh untuk membantu kita menikmati firman Kristus yang “patut dihasratkan melebihi segala buah yang lain.” [15] Kita kemudian akan dapat memprioritaskan hari itu dengan membaca tulisan suci di atas hal lainnya.  

 

Kasih untuk Semua Orang

Harapan Presiden Russell M. Nelson adalah bahwa kita akan merasakan dampak pembersihan Kristus ketika kita bersedia untuk bertobat dan berkeinginan untuk mendengarkan Dia.  

 

“Saya telah memikirkan tentang perlunya kita masing-masing untuk menyingkirkan, dengan bantuan Juruselamat, puing-puing tua dalam kehidupan kita. Injil Yesus Kristus adalah Injil pertobatan. Karena Pendamaian Juruselamat, Injil-Nya memberikan undangan untuk terus berubah, bertumbuh, dan menjadi lebih murni.  Itu adalah Injil pengharapan, kesembuhan, dan kemajuan.  Jadi, Injil adalah pesan sukacita! Jiwa kita bersukacita dengan setiap langkah kecil yang kita ambil.” [16]   

 

Kasih bagi semua orang dan pengampunan terkait sangat erat.  Karena kasih-Nya yang besar bagi kita, Bapa Surgawi tidak pernah berhenti mengampuni kita sewaktu kita bertobat dari perbuatan salah kita dan menerima Pendamaian Kristus dan pembelaan-Nya kepada Bapa demi kita.   Meskipun kita berutang kepada Juruselamat kita utang kekal yang tidak akan pernah dapat dilunasi, yang Dia minta dari kita hanyalah agar kita mengasihi Allah, menaati perintah-perintah-Nya, dan mengembangkan kasih untuk semua orang.  

 

Untuk membantu kita, Kristus memerintahkan kita untuk bertobat dan bahwa “darimu dituntut untuk mengampuni semua orang.” [17] Saat kita berusaha untuk “Dengarlah Dia!” [18] dan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk mengembangkan kasih murni Kristus, kita dengan rendah hati mengembangkan roh pertobatan untuk dosa-dosa kita sendiri dan pengampunan untuk dosa-dosa orang lain.  Semoga kita melakukannya, agar kita “boleh menjadi para putra Allah; agar ketika Dia akan memperlihatkan diri kita akan menjadi seperti Dia, karena kita akan melihat-Nya sebagaimana Dia adanya; agar kita boleh memiliki harapan ini; agar kita boleh dimurnikan bahkan seperti Dia adalah murni.” [19] 

 


Rujukan

[1]        Matius 24:12

[2]        Mosia 5:2

[3]        Ajaran dan Perjanjian 18:10

[4]        Yohanes 14:15

[5]        Mosia 3:19

[6]        Mosia 3:21

[7]        Penatua Russell M. Nelson, “Keputusan-Keputusan untuk Kekekalan,” Konferensi Umum Oktober 2013

[8]        2 Nefi 26:33

[9]        Matius 9:20

[10]      Yohanes 8:11

[11]      Matius 9:9

[12]      Lukas 17:17

[13]      Lukas 23:34

[14]      2 Nefi 31:20

[15]      1 Nefi 8:15

[16]      Presiden Russell M. Nelson, “Pesan Selamat Datang,” Konferensi Umum April 2021

[17]      Ajaran dan Perjanjian 64:10

[18]      Joseph Smith—Sejarah 1:17

[19]      Moroni 7:48