Pesan Pemimpin Area (Februari 2026)

Perjanjian Saya Menopang Saya dalam Masa-Masa Sulit

Penatua Natthapol Lattisophonkul
Penatua Natthapol Lattisophonkul Tujuh Puluh Area, Area Asia

Setelah pembaptisan, kita menerima pengukuhan dan karunia Roh Kudus. Roh Kudus mendatangkan penghiburan dan menuntun kita melalui berbagai tantangan kehidupan. Untuk membuka komunikasi kita dengan Roh Kudus, kita perlu menjaga diri tetap bersih dengan menaati perintah-perintah Allah, menyediakan waktu tenang untuk menelaah dan merenungkan tulisan suci, serta mendengarkan suara hening nan lembut.

Pada bulan-bulan pertama setelah kelahiran anak pertama kami, saya sangat kelelahan karena membantu istri saya merawat bayi kami sepanjang malam. Saya mulai melewatkan waktu untuk menelaah tulisan suci beberapa hari. Saya merasa hidup saya tidak teratur dan tahu bahwa saya perlu berubah. Saya memutuskan untuk bangun satu jam lebih awal setiap pagi untuk mempelajari Kitab Mormon bersamaan dengan buku pedoman institut. Saya merasakan kekuatan rohani yang lebih besar untuk menanggung beban saya. Saya merasakan lebih banyak sukacita dan damai melalui penemanan Roh Kudus.

Tahun lalu, istri saya menerima kabar yang sangat menyedihkan. Ayah dan ibunya didiagnosis mengidap kanker. Beberapa bulan kemudian, ayah saya sendiri menjalani operasi, dan istri saya didiagnosis memiliki dua kista payudara yang berpotensi kanker. Syukurlah, hasil setelah operasi menunjukkan tidak ada kanker. Tidak lama kemudian, putri kami mengalami radang usus buntu. Semua ini terjadi dalam rentang waktu enam bulan, dan tidak satu pun dari mereka pernah menjalani operasi sebelumnya. Pada waktu yang hampir bersamaan, saya menerima pemanggilan baru Gereja yang menuntut banyak perjalanan dan waktu, dan pekerjaan baru saya mengharuskan saya bekerja hingga larut malam hampir setiap hari.


“… dalam tata cara-tata cara darinya, kuasa keallahan dinyatakan”

A&P 84:20

Untuk menghadapi tantangan tersebut, saya tahu bahwa hanya Juruselamat yang dapat menolong saya melalui semuanya. Saya berusaha mendekat kepada-Nya dengan meluangkan lebih banyak waktu menelaah tulisan suci, mendengarkan ceramah-ceramah Konferensi Umum selama perjalanan saya, dan beribadah di bait suci. Saya memilih untuk tidak dikuasai kekhawatiran, melainkan berpikir selestial dan mengandalkan kuasa dari perjanjian yang telah saya buat di bait suci. Hal itu membawa damai bagi saya. Juruselamat telah berjanji, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27).

Pengalaman-pengalaman ini mendekatkan saya kepada Juruselamat. Perjanjian yang telah saya buat melalui tata cara kudus telah menguatkan ikatan saya dengan Bapa Surgawi dan Yesus Kristus. Saya sungguh percaya bahwa “… dalam tata cara-tata cara darinya, kuasa keallahan dinyatakan” (A&P 84:20). Ketika kita membuat perjanjian di bait suci, kita dapat memperoleh kuasa dari surga untuk diri kita dan keluarga kita. Kita dapat bersandar pada ajaran Helaman: “… Adalah di atas batu karang Penebus kita, yang adalah Kristus, Putra Allah, bahwa kamu mesti membangun landasanmu; agar ketika iblis akan mengirimkan anginnya yang dahsyat, ya, anak panahnya dalam angin puyuh, ya, ketika semua hujan esnya dan badainya yang dahsyat akan menerjang ke atas dirimu, itu tidak akan memiliki kuasa atas dirimu untuk menyeretmu turun ke dalam jurang, kegetiran dan celaka tanpa akhir, karena batu karang yang di atasnya kamu dibangun, yang adalah suatu landasan yang pasti, landasan yang jika manusia membangun di atasnya mereka tidak dapat jatuh” (Helaman 5:12).

Perjanjian Saya Menopang Saya dalam Masa-Masa Sulit

Ketika kita membangun landasan yang teguh di atas Juruselamat dengan membuat dan menepati perjanjian, kita dapat memiliki ketenangan pikiran saat cobaan datang dan bersiap menghadapi tantangan di masa mendatang. Saat kita membuat perjanjian tambahan setelah baptisan—termasuk penahbisan imamat, pemberkahan bait suci, dan pemeteraian—kita diberkati dengan hubungan yang lebih dekat dengan Allah. Kita berhak atas berkat yang menyertai setiap tata cara tersebut. Iman kita akan bertumbuh semakin kuat hingga kita memperoleh rasa percaya penuh di hadapan Allah. Sewaktu kita memandang kepada-Nya dalam setiap pikiran, kita akan “janganlah ragu, janganlah takut” (Ajaran dan Perjanjian 6:36).

Saya bersaksi bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat kita dan bahwa Dia hidup. Dia mengetahui kebutuhan kita dan telah berjanji bahwa mereka yang membuat dan menepati perjanjian akan dilindungi dari ketidakpastian dan ketakutan duniawi. Kita dapat senantiasa memiliki damai-Nya dan melewati segala tantangan hidup dengan rasa percaya.