Pesan Kepemimpinan Area Asia (Juni 2026)

Allah Mendengar Doa Kita

Penatua Stephen W. Dyer
Penatua Stephen W. Dyer Tujuh Puluh Area, Area Asia

“Bapa Surgawi, b’narkah Kau ada? Dengar dan jawab anak yang berdoa?”[1]

Pada suatu waktu atau saat lainnya, banyak dari kita telah bertanya-tanya dalam hati kita pertanyaan langsung, autentik, dan penuh harapan yang sama yang diungkapkan dalam lagu anak-anak yang menyentuh ini, “Apakah Engkau mendengar doa kami?”

Pada satu titik dalam kehidupan saya, saya merasa bahwa saya berada dalam “kekisruhan” rohani. Saya merindukan tingkat perasaan Roh yang sering saya rasakan di masa lalu. Suatu hari selama periode itu, saya menemukan sebuah kitab tulisan suci cetakan besar yang ibu saya warisi dari ayah saya, dan yang saya kemudian warisi dari ibu saya ketika dia meninggal.

Sewaktu saya membuka tulisan suci dan membolak-balik halaman-halamannya, saya merasa secara khusus terhubung dengan orang tua saya. Saya melihat sebuah penanda halaman dengan tulisan tangan ibu saya di atasnya. Tulisan suci yang telah dia tandai ada di Ajaran & Perjanjian bagian 88, “Mendekatlah kepada-Ku dan Aku akan mendekat kepadamu …. ”[2] Sewaktu saya membaca tulisan suci itu, saya merasakan perasaan hangat di hati saya. Saya tahu bahwa Bapa Surgawi dan ibu saya mengirimi saya pesan yang sederhana dan jelas. Saya perlu memulihkan momentum rohani saya dan untuk lebih sering merasakan Roh dengan berdoa lebih sering dan lebih tulus.

 


“Mendekatlah kepada-Ku dan Aku akan mendekat kepadamu …. ”

Ajaran dan Perjanjian 88:63

Saya berdoa dengan sangat khusyuk ketika saya merasa kewalahan dengan kehidupan. Tak terelakkan, Allah mengirimkan Roh-Nya, Sang Penghibur, untuk memberi saya kedamaian dan ketenangan dalam hati saya, bahkan di tengah kekacauan. Saya bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hal ini.

Bertahun-tahun yang lalu, salah seorang anak saya yang masih kecil memiliki masalah medis yang serius. Kami terbang ke Amerika Serikat untuk mengunjungi dokter spesialis, dan ibu saya terbang dari rumahnya di Michigan untuk menemui kami di sana. Dia sangat prihatin akan anak kami.

Ibu saya memberi tahu saya bahwa setelah kembali ke rumah, dia mulai berdoa bagi anak kami. Dia berdoa selama tiga hari, berulang kali dan lebih khusyuk daripada yang pernah dia lakukan sebelumnya. Kemudian, setelah salah satu doanya, dia tiba-tiba mengalami kehangatan yang berasal dari bagian atas kepalanya dan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Dia merasakan kedamaian yang luar biasa dan mendengar kata-kata dalam benaknya, “Dia akan baik-baik saja.” Kemudian, diulangi, “Dia akan baik-baik saja.” Sukacita yang dia miliki pada saat itu membuat air matanya berlinang. Dia memberi tahu saya bahwa itu adalah salah satu pengalaman paling luar biasa dalam hidupnya.

Dalam bertahun-tahun berikutnya, anak itu memang baik-baik saja. Doa ibu saya tidak hanya didengar tetapi juga dijawab.

Perasaan damai dari Penghibur ini begitu sering terjadi kepada saya ketika saya berdoa, sehingga saya tahu Allah mendengar doa-doa saya, bahkan ketika resolusi dari apa yang telah saya doakan masih jauh di masa depan.

Bapa Surgawi, b’narkah Kau ada? Dengar dan jawab anak yang berdoa?

Sebagai seorang remaja, Joseph Smith bergumul untuk memahami gereja mana yang harus diikuti dan sangat terkesan ketika membaca Surat Yakobus, “Jika ada di antara kamu yang kekurangan hikmat, biarlah dia meminta kepada Allah, yang memberi kepada semua orang dengan murah hati, dan tidak mencela; dan itu akan diberikan kepadanya.”[3]

Setelah membaca tulisan suci ini, Joseph Smith dengan teguh percaya bahwa Allah akan mendengar doanya dan tidak mendera dia karena mengajukan pertanyaan. Allah tidak saja mendengar doa Joseph yang sungguh-sungguh dan setia, tetapi dia menjawabnya dengan cara yang tak terduga dan dengan pemanggilan yang tak terduga bagi Joseph muda.

Bapa Surgawi adalah maha bijaksana. Dia tahu bagaimana perasaan kita dan apa yang kita butuhkan bahkan sebelum kita mengajukannya. Dia hanya menunggu kita untuk memohon. Tetapi Dia menjawab sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak kita.

Pikirkan saja sukacita yang Bapa kita di Surga yang pengasih pasti rasakan sewaktu kita mendekat kepada-Nya dalam doa, mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya, dan memohon bantuan-Nya. Sebagai ayah duniawi, saya tahu saya akan bahagia. Saya senang ketika anak-anak saya meminta bantuan saya.

“Kata mereka surga jauh, namun saat berdoa dekat sungguh.”[4] Frasa terakhir dari lagu anak-anak ini dengan tepat menggambarkan pengalaman saya. Seperti nabi yang perkataannya kita baca dalam Kitab Mormon, “… Aku berseru kepada Allahku dalam iman, dan aku tahu bahwa Dia akan mendengar seruanku.”[5] Saya mengetahui ini karena berulang kali ketika saya berdoa, Dia mengirimkan Roh-Nya, Penghibur, untuk mendatangkan kedamaian ke dalam hati saya. Oleh karena itu, sewaktu saya menunggu Dia untuk menanggapi permohonan saya sesuai dengan kehendak-Nya, saya merasa bahwa Dia berada dekat■

 


[1] “Doa Seorang Anak,” Buku Nyanyian Anak-Anak, 12 [versi terjemahan terkini]

[2] Ajaran dan Perjanjian 88:63

[3] Yakobus 1:5

[4] Children's Songbook [Buku Nyanyian Anak-Anak], 12

[5] 2 Nefi 33:3