Pesan Kepemimpinan Area Asia (Juli 2026)

Apakah Mukjizat Telah Berhenti

Penatua David L. Buckner
Penatua David L. Buckner dari Tujuh Puluh

Kita hidup di dunia yang dipenuhi dengan kelimpahan dan diberkati dengan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi yang tidak pernah dapat dibayangkan bahkan satu dekade yang lalu. Kita memiliki akses langsung kepada seluruh umat manusia dan dapat melihat jauh melampaui tata surya kita dengan teleskop dan satelit. Perangkat yang kita genggam di tangan kita dapat menerjemahkan bahasa, memantau detak jantung, dan menghubungkan kita dengan siapa pun di mana pun. Namun demikian, sering kali kita melihat dunia sekuler di sekitar kita dan tidak melihat sesuatu yang istimewa, luar biasa, dan tidak ada yang akan kita cirikan sebagai mukjizat. Kita membaca kisah dalam tulisan suci tentang Nuh membangun bahtera, Musa membelah Laut Merah, dan Juruselamat mengubah air menjadi anggur. Dalam kisah-kisah itu, kita melihat mukjizat!

Apakah Mukjizat Telah Berhenti?  Dalam pasal-pasal penutup Kitab Mormon, Moroni menjawab pertanyaan ini dengan mengutip ayahnya, Mormon. “Saudara-saudara terkasihku, apakah mukjizat-mukjizat telah berhenti? Tidak; tidak juga para malaikat telah berhenti melayani anak-anak manusia” (Moroni 7:29).

Begitu sering kita berbicara tentang mukjizat sebagai peristiwa spektakuler yang tidak dapat dijelaskan yang melampaui pemahaman manusia, alih-alih memandangnya sebagai manifestasi kuasa Allah yang sakral dan senantiasa hadir di dalam kehidupan kita. Mukjizat adalah “hasil alami dari kehadiran Mesias di antara manusia” (Bible Dictionary, “Miracles”) seperti hati yang dilunakkan, kekuatan untuk menanggung pencobaan yang berat, atau kedamaian yang kita rasakan di saat duka atau rasa sakit. Bukankah semua ini merupakan manifestasi murni dari kuasa Allah di dalam kehidupan kita? Ini adalah mukjizat!


“Saudara-saudara terkasihku, apakah mukjizat-mukjizat telah berhenti? Tidak; tidak juga para malaikat telah berhenti melayani anak-anak manusia”

Moroni 7:29

Ketika melayani misi di Spanyol, putri saya, Lauren, telah mengamati manifestasi yang menakjubkan dari kuasa Allah dalam kehidupannya. Kami mencermati beberapa bulan sebelum misinya dia mulai menyebut banyak pengalamannya sebagai “mukjizat.” Sebuah pertemuan tak terduga di taman atau sapaan di jalan dipandangnya sebagai pernyataan akan kuasa Allah di dalam kehidupannya. Setiap kali dia memperhatikan satu mukjizat, mukjizat lainnya segera mengikuti. Semakin banyak dia melihat, semakin banyak manifestasi murni dia saksikan. Minggu demi minggu kami tercengang oleh semakin meningkatnya pengalaman sakral dan diteguhkan oleh peristiwa-peristiwa yang terkadang sangat menakjubkan sifatnya dari pengalamannya.

Pada suatu kesempatan, dia dan rekannya sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan seorang teman baru. Entah bagaimana, mereka akhirnya berjalan ke arah yang salah dan mendapati diri mereka berada tiga puluh menit menjauh dari tujuan mereka. Lauren berhenti sejenak untuk membetulkan arah, sementara rekannya, yang biasanya enggan melakukan kontak di jalan, secara berani memutuskan untuk berbicara dengan seorang remaja putri di dekat mereka. Pada saat itu, jauh dari tujuan semula mereka, sebuah percakapan sederhana menuntun pada undangan yang indah untuk menerima Injil Yesus Kristus. Beberapa minggu kemudian, teman baru itu memasuki kolam baptisan dan menerima Roh Kudus. Manifestasi murni dari kuasa Allah ini mudah saja disalahartikan sebagai kesempatan, kebetulan, atau mungkin keberuntungan alih-alih sebagaimana itu sesungguhnya … sebuah mukjizat!

Apakah Mukjizat Telah Berhenti

Juruselamat memaklumkan dengan tegas, “… Aku adalah seorang Allah mukjizat; dan Aku akan memperlihatkan kepada dunia bahwa Aku adalah yang sama, kemarin, hari ini, dan selamanya …” (2 Nefi 27:23). Mukjizat belum berhenti. Mukjizat ada di sekitar kita apabila kita memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan iman untuk percaya.

Tuhan melanjutkan, “Aku tidak bekerja di antara anak-anak manusia kecuali menurut iman mereka” (2 Nefi 27:23). Komponen utama akan iman itulah yang menjadi landasan tempat suatu menara mukjizat dapat berdiri. Tuhan berfirman, “Aku akan memperlihatkan mukjizat, tanda, dan keajaiban, kepada mereka semua yang percaya pada nama-Ku” (A&P 35:8). Iman kitalah yang mendahului mukjizat dan keyakinan kita kepada nama-Nya yang memungkinkan kita untuk sungguh-sungguh mengalami kegenapan dari mukjizat-mukjizat tersebut!

Ada mukjizat di sekeliling kita! Dari yang sederhana hingga yang menakjubkan, manifestasi akan kuasa Allah dapat terlihat dalam pertemuan-pertemuan yang tampak kebetulan, hati yang diubah, dan pelayanan para malaikat pada saat-saat yang dibutuhkan. Kita mungkin tidak menyaksikan laut terbelah atau pembangunan bahtera, tetapi kita pasti dapat melihat mukjizat di dalam kehidupan kita sendiri sewaktu kita memandang kepada-Nya. Kita akan menyaksikan kembalinya seorang anak yang hilang, melihat tangan Tuhan dalam hidup kita, dibebaskan dari hal-hal yang menawan kita, dan menerima jawaban atas doa-doa kita. Dan meskipun mukjizat-mukjizat itu mungkin tidak seperti yang terjadi kepada saudara laki-laki Yared, Alma dan Amulek, atau Joseph Smith, mukjizat-mukjizat itu tetaplah merupakan pernyataan murni akan kuasa Allah di dalam kehidupan kita. Itu adalah mukjizat.

Semoga kita melihat mukjizat-mukjizat setiap hari sewaktu kita menyaksikan tangan Allah di dalam kehidupan kita. Sebab Dia adalah Seorang Allah Mukjizat!!