Tradisi Keluarga di Seluruh Asia
“Di keluarga kami, kami selalu makan malam bersama di meja, kami menunggu semua orang sebelum memulai, dan tidak ada yang pergi sampai semua orang selesai. Itu sudah menjadi kebiasaan, dan mengingatkan kami untuk memperlambat dan hadir bagi satu sama lain.”
“Menghabiskan waktu di pertanian telah menjadi tradisi liburan favorit keluarga kami. Melihat putra saya tampak berbinar saat dia memberi makan sapi, menunggang kuda, dan bermain dengan kelinci—belum lagi membelai iguana dan ular piton!—sungguh menakjubkan. Ini adalah cara terbaik bagi kita untuk melepaskan diri dari dunia dan berhubungan kembali dengan satu sama lain.”
“Selama Malam Keluarga, setelah bagian rohani keluarga kami biasanya bermain ludo bersama dan menikmati kudapan tradisional Pakistan seperti samosa dan jalebi.”
“Di keluarga kami, ketika musim tiba, kami pergi ke perkebunan kacang mete kami. Kami membawa kantong plastik atau keranjang untuk memetik buah jambu mete merah dari pohon. Kami berlomba untuk melihat siapa yang mendapat lebih banyak buah. Itu hanya cara untuk bersama sebagai sebuah keluarga.”
“Di keluarga kami, kami selalu berkemas dan berkemah di tempat baru selama liburan—kami tidak pernah mengulangi tempat yang sama, jadi kami tidak pernah tahu apa yang diharapkan. Dari tempat-tempat yang nyaman hingga malam yang dipenuhi nyamuk, perjalanan ini membawa kami lebih dekat bersama dan mengajari anak-anak lelaki kami untuk merangkul petualangan dan alam bebas.”
“Kami selalu menetapkan gol bersama di awal tahun dan saling berbagi. Tidak setiap gol tercapai pada akhirnya, tetapi sepanjang tahun kami sering melihat bagaimana rencana-rencana ini menolong keluarga kami menjadi bersatu dan bertumbuh.'
“Setiap malam, setelah makan malam, kami selalu pergi jalan-jalan dengan sepeda motor kami di sekitar pusat kota dan berbagi tentang hari kami, berkat-berkat yang kami terima dan apa yang ingin kami rencanakan untuk masa depan kami.”
“Kami selalu memiliki hidangan penutup setelah Malam Keluarga, tidak terlewatkan. Ini adalah sesuatu yang kita semua (bukan hanya anak-anak, orang dewasa juga!) nantikan setelah Malam Keluarga.”
“Satu hal yang tidak pernah kita lewatkan adalah rasa syukur—meluangkan waktu setiap hari untuk menghargai berkat-berkat kita dan satu sama lain.”
“Di keluarga kami, kami selalu mengatakan ‘Aku mengasihimu’ setiap hari. Itu telah menjadi sesuatu yang tidak pernah kami lewatkan untuk ucapkan—bahkan tidak untuk satu hari pun. Bahkan ketika kami berdebat, kami berbaikan, meminta maaf, dan tidak pernah lupa mengatakan, ‘Aku mengasihimu.’”